Sabtu, 07 Juli 2018

Manajemen Kurikulum Sekolah Dasar (SD) Dalam Pembinaan Akhlak Mulia Suatu Kajian Epistimologi








Manajemen Kurikulum Sekolah Dasar (SD) Dalam Pembinaan Akhlak Mulia
Suatu Kajian Epistimologi

Disusun Oleh:

Zahara Fona
NIM. 2017530390


 






PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MALIKUSSALEH KOTA LHOKSEUMAWE-ACEH
1439H/2018M












KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT Rabb pemilik langit dan bumi, kamibersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya, kami berlindung dari segala keburukan perbuatan kami yang menyimpang, dan kami memohon selalu bimbingan-Nya Shalawat dan salam selalu tercurah atas Nabi yang mulia, manusia pilihan, contoh yang paling terbaik bagi manusia yaitu baginda Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas kuliah dan terima kasih yang sebesar-besar nya untuk dosen pengampu atas bimbingannya, untuk itu kami telah berusaha sebaik mungkin dalam penyusunannya, mulai dari pengumpulan sumber, pencarian informasi yang sesuai dengan tema sampai pada tahap penyusunan telah penulis lakukan sebaik mungkin, walaupun demikian kami selaku penyusun menyadari masih terdapat kekurangan dalam makalah ini oleh sebab itu kami selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan kekurangan yang tentunya ada pada makalah kami ini demikianlah, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penyusun dan pembaca sekalian. Selamat membaca.

Lhokseumawe, 20 April 2018

                                  Penulis



Daftar Isi
KATA PENGANTAR ………………………………………………………
DAFTAR ISI………………………………………………………………..       
I.                    Pendahuluan....................................................................................... 3      
Latar Belakang Masalah.................................................................... 3
Rumusan Masalah.............................................................................. 4
Tujuan penulisan................................................................................ 4
II.                    Pembahasan........................................................................................ 5
A.    Pengertian Manajemen Kurikulum di Sekolah Dasar....................... 6
B.    Pengertian Pembinaan Akhlak Mulia................................................ 8
C.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak............... 9      
D.      Hubungan Kurikulum Terhadap Pembinaan Akhlak......................... 10
E.     Peranan Kurikulum dalam Pembinaan Akhlak Mulia..................... 11
III.                    Kesimpulan...................................................................................... 14
Daftar Pustaka.................................................................................. 15








Pendahuluan

A.      Latar Belakang Masalah
         Salah  satu  bagian  penting  dari  manajemen  sekolah  adalah  manajemen  kurikulum,  karena  kurikulum  adalah  jantungnya  pendidikan.  Sesuai  dengan paradigma pembangunan pendidikan dan kebudayaan dalam Renstra kemendikbud  Tahun 2015, pendidikan  harus berorientasi  pada  pembudayaan, pemberdayaan,  dan pembentukan kepribadian dengan mengembangkan karakter unggul antara lain,  bercirikan kejujuran, berakhlak mulia, mandiri, serta cakap dalam menjalani hidup. Dalam  program  pemerintah  Nawa  Cita  butir  8  disebutkan:  “Melakukan  revolusi  karakter  bangsa  melalui  kebijakan  penataan  kurikulum  pendidikan  nasional”, pemerintah  berusaha  mengembangkan  pendidikan  karakter  dalam  pendidikan  di  sekolah . Program prioritas pendidikan adalah menata kembali kurikulum pendidikan  nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, seperti sejarah  pembentukan  bangsa,  nilai-nilai cinta  tanah  air,  semangat  bela  negara  dan  budi  pekerti. Ada 70% porsi bahan ajar tentang budi pekerti di tingkat pendidikan dasar. Namun demkian belum semua Sekolah Dasar dapat menerapkan program pendidikan tersebut.    
       Perencanaan kurikulum dilakukan secara cermat untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Sekolah menyediakan fasilitas sarana prasarana pembelajaran yang memadai bagi siswa, program sekolah yang menarik, sistem pembelajaran yang terpadu dengan pendidikan agama untuk pembentukan karakter siswa. Perencanaan kurikulum diimplementasikan dalam bentuk program sekolah. Program unggulan sekolah yang disusun dalam kurikulum tersebut adalah kegiatan market day, out bond, hafalan Al Qur’an, kegiatan Pramuka, dan kegiatan ekstra kurikuler yang lain serta Program Study Lapangan. Perencanaan program yang jelas terlihat dari adanya program mingguan yang berupa jadwal kegiatan sekolah untuk disampaikan kepada orang tua.

Pelaksanaan kurikulum di SD haruslah berjalan baik, terlihat dari kedisiplinan pembelajaran dan kegiatan sehari-hari. Peserta didik mendapatkan pelayanan prima dari sekolah. Adanya guru kelas dan wali kelas di setiap kelas menunjukkan adanya perhatian yang lebih terhadap peserta didik. Budaya sekolah yang Islami terlihat sangat kental dalam kegiatan sehari-hari.
Kepercayaan masyarakat terhadap suatu SD  terbentuk karena pihak di sekolah SD tersebut  selalu berusaha untuk meningkatkan mutu sekolah dan mengutamakan mutu dalam pelayanannya. Hal ini terlihat dari visinya yaitu sekolah Dasar harus lah memiliki visi yang islami untuk mewujudkan adanya akhlal mulia pad murud-murid misalnya visi” Mewujudkan siswa berprestasi dan berakhlak Islami”. Keberhasilan manajemen di suatu SD juga dapat dilihat dari banyaknya prestasi yang diperoleh baik prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik.[2] Oleh karena itu pihak sekolah haruslah berusaha melakukan upaya-upaya atau cara yang baik dalam menciptakan kondisi tersebut. Salah satu upaya yang ditempuh oleh pihak sekolah yaitu melalui manajemen kurikulum[3]. Dengan demikian, manajemen kurikulum dapat menjadi salah satu jalan keluar atau cara untuk meningkatkan kemajuan sekolah khususnya dalam hal pembinaan akhlak mulia anak didik. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk menulis tentang permasalahan tersebut dan di tuangkan dalam bentuk makalah yang berjudul “Manajemen Kurikulum Sekolah Dasar dalam Pembinaan Akhlak Mulia”






B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.     Apa Pengertian Manajemen Kurikulum di Sekolah Dasar?
2.     Apa Pengertian Pembinaan Akhlak Mulia?
3.      Apa Saja Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak?
4.     Apa saja Hubungan Kurikulum Terhadap Pembinaan Akhlak?
5.     Apa Peranan Kurikulum dalam Pembinaan Akhlak Mulia?

C.    Tujuan Penulisan.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulisan dari permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.     Menjelaskan Pengertian Manajemen Kurikulum di Sekolah Dasar.
2.     Menjelaskan Pengertian Pembinaan Akhlak Mulia.
3.      Menjelaskan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak.
4.     Menjelaskan Hubungan Kurikulum Terhadap Pembinaan Akhlak.
5.     Menjelaskan Peranan Kurikulum dalam Pembinaan Akhlak Mulia.













PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manajemen Kurikulum di Sekolah Dasar
Secara etimologi, manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata manus yang berarti  tangan dan agree yang berarti melakukan. Kata-kata ini digabungkan menjadi kata kerja manager yang berarti “menangani”. Kata ini selanjutnya diadopsi dalam bahasa Italia maneggiare yang berarti “mengendalikan” terutama “mengendalikan kuda”. Dalam perkembangannya diadopsi kedalam bahasa Prancis management, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur[4].
Manager diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to  manage, dengan kata benda management, dan manager  untuk orang yang yang melakukan kegiatan manajemen. Kemudian, management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pengelolaan.
Manajemen adalah melakukan pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah atau organisasi yang diantaranya adalah manusia, uang, metode, material, mesin dan pemasaran yang dilakukan dengan sistematis dalam suatu proses. Menurut Hasibuan, manajemen sebagai ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan menurut Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian,  memimpin dan mengawasi pekerjaan organisasi dan untuk menggunakan sumber daya organisasi yang tesedia untuk mencapai tujuan organisasi yang dinyatakan dengan jelas[5].
Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu kegiatan mendayagunakan orang dan sumber-sumber lainnya untuk  mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Istilah kurikulum (curriculum) berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat terpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh mendali/penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seseorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah..
Berdasarkan pengertian di atas, dalam kurikulum terkandung dua hal pokok, yaitu:[6]
1.     Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa.
2.     Tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah.
Dengan demikian, setiap siswa harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan dan menempatkan guru dalam posisi yang sangat penting dan menentukan. Istilah kurikulum pada dasarnya tidak hanya terbatas pada sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup semua pengalaman belajar yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.
Berikut pengertian kurikulum menurut beberapa para ahli:
1.     Harold B. Alberty, kurikulum sebagai kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah.
2.     Saylor, Alexander, dan lewis, kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk memengaruhi siswa belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, maupun di luar sekolah.
3.     Nasution, kurikulum dalam arti luas meliputi seluruh program di sekolah, yakni segala pengalaman di bawah tanggung jawab sekolah.
4.     Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai pendidikan tertentu.
Jadi, manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistematik, dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.

B.      Pengertian Pembinaan Akhlak Mulia.
Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW. yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan innama buitstu li utammima makarim al-akhlaq (H.R Ahmad) (Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).
Perhatian islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini dapat pula dilihat dari perhatian islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akanlahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.
Pembinaan akhlak dalam Islam juga terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman. Hasil analisis Muhammad al-Ghazali terhadap rukun islam yang lima telah menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akhlak. Rukun islam yang pertama adalah mengucapakan dua kalimah syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat ini mengandung pernyataan bahwa selama hidupnya manusia hanya tunduk kepada aturan dan tuntutan Allah. Orang yang tunduk dan patuh pada aturan Allah dan Rasul-Nya sudah dapat dipastikan akan menjadi orang yang baik.[7]
Pada kenyataan dilapangan, usaha-usaha pembinaan akhalak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada ibu-bapak, saying kepada sesame makhluk Tuhan dan seterusnya. Keadaan sebaliknya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak dibina akhlaknya, atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan, dan pendidikan, ternyata menjdi anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela dan seterusnya.
Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina. Keadaan pembinaan ini semakin terasa diperlukan terutama pada saat dimana semakin banyak tantangan dan godaan sebagai dampak dari kemajuan dibidang iptek. Peristiwa yang baik atau yang buruk dengan mudah dapat dilihat melalui pesawat televise, internet dan lain-lain. Demikian pula produk obat-obat terlarang, minuman keras, dan pola hidup materialistic dan hedonistic semakin menggejala. Semua ini jelas membutuhkan pembinaan akhlak. Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang tepat.[8]

C.          Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak
Untuk menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yang sudah amat popular. Pertama aliran Nativisme. Kedua, aliran Empirisme, dan ketiga aliran konvergensi. Menurut aliran Nativisme bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecendrungan, bakat, akal, dan lain-lain.
Jika seseorang sudah memiliki pembawaan atau kecendrungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik. Aliran ini tampaknya begitu yakin terhadap potensi batin yang ada dalam diri manusia, da hal ini kelihatannyaerat kaitannya dengan pendapat aliran intuisisme dalam hal penentuan baik dan buruk sebagaimana telah diuraikan diatas. Aliran ini tampak kurang menghargai atau kurang memperhitungkan peranan pembinaan dan pendidikan. Selanjutnya menurut aliran Empirisme bahwa factor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor dari luar, yaitu lingkungan social, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan.
Jika pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anak itu. Demikian jika sebaliknya. Aliran ini tampak lebih begitu percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran. Dalam pada itu aliran konvergensi berpendapat pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawaan sianak, dan faktor dari luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan social. Aliran yang ketiga, yakni aliran konvergensi itun tampak sesuai dengan ajaran islam.
Dengan demikian faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak pada anak ada dua, yaitu faktor dari dalam yaitu potensi fisik, intelektual dan hati (rohaniah) yang dibawa sianak sejak lahir, dan factor dari luar yang dalm ini adalh kedua orang tua dirumah, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh serta pemimpin dimasyarakat. Melelui kerja sama yang baik antara tiga lembaga pendidikan tersebut, maka aspek kognitif ( pengetahuan), efektif (penghayatan), psikomotorik (pengamalan) ajaran yang diajarkan akan terbentuk pada diri anak. Dan inilah yang selanjutnya dikenal dengan istilah manusia seutuhnya.[9]

D.          Hubungan Kurikulum Terhadap Pembinaan Akhlak
Para pendidik muslim sepakat bahwa tujuan dari pendidikan bukanlah untuk menjejalkan pemikiran siswa dengan fakta-fakta tetapi mempersiapkan mereka untuk hidup secara tulus dan ikhlas. Komitmen pembangunan akhlak ini adalah tujuan tertinggi dalam pendidikan Islam yang sesuai dengan cita-cita Islam. Masyarakat muslim harus bertekad untuk menanamkan prinsip-prinsip Islam di dalam hati dan pikiran anak-anaknya untuk mencapai cita-cita Islam, serta untuk melanjutkan keberlangsungan umat menjadi umat terbaik. Umat terbaik disini bukan hanya umat yang unggul dalam pengetahuan atau keahlian tertentu, tetapi umat yang mampu mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan serta beriman kepada Allah.
Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar. Peran guru sebagai pengajar yang harus mampu menciptakan kondisi belajar yang sebaik-baiknya. Selain itu sebagai pembimbing yang memberikan bantuan kepada setiap siswa mencapai Begitu pentingnya peran guru dalam keberhasilan pendidikan akhlak di sekolah, maka hendaknya guru harus mampu membuat perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, dan pengelolaan pembelajaran yang efektfif, penilaian belajar yang objektif, serta memberikan motivasi pada peserta didik. Seorang guru harus memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya, tanpa komitmen yang kuat, suatu tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Sehingga komitmen meruapakan langkah awal dalam menerima, mematuhi, dan mengemban amanah.

E.      Peranan Kurikulum dalam Pembinaan Akhlak Mulia.
Sangatlah penting untuk mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam kurikulum (komponen kurikulum) Kurikulum merupakan ruh sekaligus guide dalam praktik pendidikan di lingkungan sekolah. Gambaran kualifikasi yang diharapkan melekat pada setiap lulusan sekolah akan tercermin dalam racikn kurikulum sekolah. Untuk mewujudkan pendidikan akhlak, maka kurikulum yang disusun harus mencerminkan visi, misi, dan tujuan sekolah yang berkomitmen terhadap pendidikan akhlak. Langkahlangkah dalam pengembangan kurikulum dalam pembinaan akhlak mulia antara lain:
1.      Mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pendidikan akhlak
2.     Merumuskn visi, misi, dan tujuan sekolah Sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus memiliki nilai-nilai luhur yang kuat untuk membina dan mengembangkan potensi akhlak peserta didik yang tertuang dalam visi, misi, dan tujuan sekolah.
3.     Merumuskan indikator perilaku peserta didik Indikator dirumuskan dalam bentuk perilaku peserta didik di kelas dan kegiatan sekolah yang dapat diamati. Indikator ini digunakan sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pendidikan akhlak[10].
4.     Mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran Silabus yaitu garis besar program pembelajaran yang merupakan hasil produk kegiatan pengembangan desain pembelajaran. Sedangkan RPP merupakan pegangan guru dalam melaksanakan pembelajran di kelas. Untuk mewujudkan pendidikan akhlak, maka dalam silabus maupun RPP harus menginternalisasikan nilai nilai akhlak di dalamnya.
5.     Mengintegrasikan konten kurikulum pendidikan akhlak ke semua mapel Pengintegrasian ini sesuai dengan filsafat pendidikan umum yang pada dasarnya untuk mengembangkan kepribadian secara utuh dan menjadikan warga negara yang berkarakter baik. Pengintegrasian dalam semua mapel adalah pengenalan nilai, diperolehnya kesadaran, dan implikasi ke dalam tingkah laku peserta didik.
6.     Mengembangkan instrumen penilaian pendidikan akhlak. Penilaian pendidikan akhlak dapat dilihat dari kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, serta peserta didik. Kegiatan pendidik dan tenaga kependidikan dapat dilihat dari hasil observasi kepala sekolah terhadap portofolio atau catatan harian mereka dalam pengembangan dan penerapan pendidikan akhlak. Sedangkan penilaian terhadap peserta didik dilakukan oleh guru secara terus menerus dan setiap saat baik di kelas maupun di luar kelas. Kriteria pencapaian pendidikan akhlak adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, dan kebiasaan yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah.
7.     Membangun komunikasi dan kerjasama denganm orang tua siswa Beberapa cara untuk mempererat hubungan antara sekolah dan orang tua:
a.      Mengadakan pertemuan dengan orang tua di awal tahun pembelajaran untuk menyampaikan visi misi sekolah terkait pendidikan akhlak.
b.     Mengadakan surat meyurat terkait program pendidikan akhlak di sekolah maupun di rumah.
c.      Mengadakan buku penghubug akhlak anak didik yang dipegang orang tua untuk mencatat perkembangan akhlak siswa di rumah.
d.     Mengunjungi orang tua siswa untuk menginformasikan secara langsung perkembangan akhlak siswa di sekolah dan guru mengetatahui perkemnagan akhlak siswa di rumah dari orang tua.
e.      Mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan dan kesiswaan yang dihadiri orang tua siswa.
f.      Membentuk perkumpulan orang tua (komite sekolah)
8.     Mendesain dan menciptakan budaya sekolah berbasis pendidikan akhlak (komponen pengelolaan). Langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan akhlak di sekolah adalah menciptakan iklim budaya sekolah yang berakhlak yang akan membantu transformasi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik menjadi warga sekolah yang berakhlak. Hal ini termasuk perwujudan visi, misi, dan tujuan sekolah. Manajemen iklim budaya sekolah merupakan salah satu kebijakan yang harus diperhatikan sekolah dalam pelaksanaan pendidikan akhlak. Pembentukan budaya sekolah berbasis pendidikan akhlak dapatdilakukan melalui keteladanan, kegiatan spontan saat guru mengetahui perilaku siswa yang kurang baik, kisah teladaan, serta pengondisian lingkungan sekolah.










Penutup
Kesimpulan
            Peran pendidikan adalah menghasilkan sumber daya manusia yang berdaya guna bagi bangsa dan negara sehingga berdampak positif pada kemajuan negara tersebut. Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan akhlak pada lembaga pendidikan khususnya di sekolah-sekolah Islam. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral.
Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan mutu layanan pendidikan yang mampu menghasilkan peserta didik yang siap bersaing di era globalisasi dengan tetap memiliki kekuatan akhlak mulia sehingga terhindar dari pengaruh negatif modernisasi.
Peningkatan kualitas pendidikan akhlak bukanlah tugas yang ringan, sehingga menuntut manajemen yang lebih baik. Sehingga pengembangan pendidikan akhlak dapat dilaksanakan secara maksimal melalui proses manajemen yang meliputi: perencanna, pengorganisasian, penggerkkan, dan pengawasan. Strategi yang dapat dilakukan dalam mengimplementasikan manajemen kurikulum dalam manajemen akhlak mulia di sekolah Islam adalah dengan melalui:
1.     Mewujudkan komitmen guru dalam pelaksanaan pendidikan akhlak(komponen guru),
2.     Mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam kurikulum (komponen kurikulum),
3.     Membuat rencana pembiayaan yangberpihak pada pelaksanaan pendidikan akhlak (komponen pembiayaan), dan
4.     Mendesain dan menciptakan budaya sekolah berbasis pendidikan akhlak (komponen pengelolaan).[11]
DAFTAR PUSTAKA

Abrari Syauki, dkk, Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga dan Sekolah., Cet
1, Yogyakarta: Aswada Pressindo, 2016

Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Filsafat Manajemen Pendidikan Islam
(Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara

Djatnika, Rachmat , 1996. Sistem Etika Islami (Akhlak Mulia). Jakarta: Pustaka
Panjimas.

Binti Maunah, Peran Pendidikan Islam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Teras,
2009

Dadang, Suhardan. 2007. Peran Kepala Sekolah dengan Bantuan Profesional.
Bandung: Mutiara Ilmu  Bandung.

Makawimbang, H. Jerry, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Cet. I;
Bandung: Alfabeta, 2011.

Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Mutu Pendidikan, Jakarta: Gaung
Persada Press, Cet.I; 2009.

Purwanto, Ngalim. 2004. Monitoring Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Remaja Rosdakarya.

Purwanto, Ngalim. 2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Rosdakarya.

Sahertian, P.A. 2000.Manajemen Pendidikan karakter di Madrasah.Jakarta:
Rineka Cipta.

Sujana, Nana. 2008. Supervisi Akademik (membina profesionalisme guru melalui
Monitoring)Jakarta: LPP Bina Mitra

Suharsimi Arikunto,2004, Dasar-Dasar Supervisi. Jakarta, PT. Rieka Cipta.
Sutisna, Oteng. 1993. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis untuk Praktek
Profesional. Bandung: Angkasa.




       [1] Drajat zakiah, Fungsi Monitoring Kepala Sekola,,(Yogyakarta: Gava Media, 2011), Cet ke 1. Hlm.17.
       [2]Charisatuniswah, dkk., Manajemen Kurikulum Sekolah Dasar. (Yogyakarta: Mapenda Kanwil Kemenang DIY, 2012), h. 23
[3] Ngalim Purwanto, Manajemen  Pendidikan di Madrasah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 76
[4]  Fitri Oviyanti, dkk. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. (Palembang: Noer Fikri, 2015). Hlm.3-4
[5] Tim Pengembang  MKDP. Kurikulum  Dan Pembelajaran. (Jakarta:Raja Grafindo Persada. 2013). Hlm.2
[6] Ngalim Purwanto, kurikuulm Pendidikan islam di Madrasah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 89.
[7] Rusman,  Manajemen Pembinaan Akhlak Pelalui Kurikulum, (Seri II; Jakarata: PT. Raja Grafindo Persada : 2009).  Hlm. 5
[8] Daryanto, Factor Pembentukan Akhklak Anak Usia Dini , (Yogyakarta: Gava Media, 2011), Cet ke 1. Hlm. 45
[9] Daryanto, Tuti R, (2013) Model Kepemimpinan dan Kepemimpinan Agribisnis Masa Depan”. Jurnal Pendidikan, hal 42
[10] A. Dale Timpe, 2002. Seri Manajemen Sumber Daya Manusia Kepemimpinan. PT Gramedia Asri Media oleh PT Elex Media Komputindo
[11] A.A. Anwar Prabu mangkunegara, 2010 Evaluasi Kinerja SDM, bandung : PT Refika Aditama.hal,53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar