Manajemen Kurikulum Sekolah Dasar (SD) Dalam
Pembinaan Akhlak Mulia
Suatu Kajian
Epistimologi
Disusun Oleh:
Zahara
Fona
NIM.
2017530390
PROGRAM
PASCASARJANA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MALIKUSSALEH
KOTA LHOKSEUMAWE-ACEH
1439H/2018M
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Rabb pemilik langit dan bumi, kamibersaksi
bahwa tidak ada Ilah selain Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya, kami
berlindung dari segala keburukan perbuatan kami yang menyimpang, dan kami
memohon selalu bimbingan-Nya Shalawat dan salam selalu tercurah atas Nabi yang mulia,
manusia pilihan, contoh yang paling terbaik bagi manusia yaitu baginda Nabi
Muhammad SAW.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas kuliah dan terima kasih yang
sebesar-besar nya untuk dosen pengampu atas bimbingannya, untuk itu kami telah
berusaha sebaik mungkin dalam penyusunannya, mulai dari pengumpulan sumber,
pencarian informasi yang sesuai dengan tema sampai pada tahap penyusunan telah
penulis lakukan sebaik mungkin, walaupun demikian kami selaku penyusun
menyadari masih terdapat kekurangan dalam makalah ini oleh sebab itu kami
selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
guna menyempurnakan kekurangan yang tentunya ada pada makalah kami ini demikianlah,
semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penyusun dan pembaca sekalian. Selamat
membaca.
Lhokseumawe, 20 April 2018
Penulis
Daftar Isi
KATA PENGANTAR
………………………………………………………
DAFTAR ISI………………………………………………………………..
I.
Pendahuluan....................................................................................... 3
Latar Belakang Masalah.................................................................... 3
Rumusan Masalah.............................................................................. 4
Tujuan penulisan................................................................................ 4
II.
Pembahasan........................................................................................ 5
A.
Pengertian Manajemen Kurikulum di Sekolah Dasar....................... 6
B.
Pengertian Pembinaan Akhlak
Mulia................................................ 8
C.
Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi Pembentukan Akhlak............... 9
D.
Hubungan Kurikulum Terhadap
Pembinaan Akhlak......................... 10
E.
Peranan Kurikulum dalam
Pembinaan Akhlak Mulia..................... 11
III.
Kesimpulan...................................................................................... 14
Daftar
Pustaka.................................................................................. 15
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Salah
satu bagian penting
dari manajemen sekolah
adalah manajemen kurikulum,
karena kurikulum adalah
jantungnya pendidikan. Sesuai
dengan paradigma pembangunan pendidikan dan kebudayaan dalam Renstra
kemendikbud Tahun 2015, pendidikan harus berorientasi pada
pembudayaan, pemberdayaan, dan
pembentukan kepribadian dengan mengembangkan karakter unggul antara lain, bercirikan kejujuran, berakhlak mulia,
mandiri, serta cakap dalam menjalani hidup. Dalam program
pemerintah Nawa Cita
butir 8 disebutkan:
“Melakukan revolusi karakter
bangsa melalui kebijakan
penataan kurikulum pendidikan
nasional”, pemerintah
berusaha mengembangkan pendidikan
karakter dalam pendidikan
di sekolah . Program prioritas
pendidikan adalah menata kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek
pendidikan kewarganegaraan, seperti sejarah
pembentukan bangsa, nilai-nilai cinta tanah
air, semangat bela
negara dan budi
pekerti. Ada 70% porsi bahan ajar tentang budi pekerti di tingkat
pendidikan dasar. Namun demkian belum semua Sekolah Dasar dapat menerapkan
program pendidikan tersebut.
Perencanaan kurikulum dilakukan secara
cermat untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Sekolah menyediakan fasilitas
sarana prasarana pembelajaran yang memadai bagi siswa, program sekolah yang
menarik, sistem pembelajaran yang terpadu dengan pendidikan agama untuk
pembentukan karakter siswa. Perencanaan kurikulum diimplementasikan dalam
bentuk program sekolah. Program unggulan sekolah yang disusun dalam kurikulum
tersebut adalah kegiatan market day, out bond, hafalan Al Qur’an, kegiatan
Pramuka, dan kegiatan ekstra kurikuler yang lain serta Program Study Lapangan.
Perencanaan program yang jelas terlihat dari adanya program mingguan yang
berupa jadwal kegiatan sekolah untuk disampaikan kepada orang tua.
Pelaksanaan
kurikulum di SD haruslah berjalan baik, terlihat dari kedisiplinan pembelajaran
dan kegiatan sehari-hari. Peserta didik mendapatkan pelayanan prima dari
sekolah. Adanya guru kelas dan wali kelas di setiap kelas menunjukkan adanya
perhatian yang lebih terhadap peserta didik. Budaya sekolah yang Islami
terlihat sangat kental dalam kegiatan sehari-hari.
Kepercayaan
masyarakat terhadap suatu SD terbentuk
karena pihak di sekolah SD tersebut
selalu berusaha untuk meningkatkan mutu sekolah dan mengutamakan mutu
dalam pelayanannya. Hal ini terlihat dari visinya yaitu sekolah Dasar harus lah
memiliki visi yang islami untuk mewujudkan adanya akhlal mulia pad murud-murid
misalnya visi” Mewujudkan siswa berprestasi dan berakhlak Islami”. Keberhasilan
manajemen di suatu SD juga dapat dilihat dari banyaknya prestasi yang diperoleh
baik prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik.[2]
Oleh karena itu pihak sekolah haruslah berusaha melakukan upaya-upaya atau cara
yang baik dalam menciptakan kondisi tersebut. Salah satu upaya yang ditempuh
oleh pihak sekolah yaitu melalui manajemen kurikulum[3].
Dengan demikian, manajemen kurikulum dapat menjadi salah satu jalan keluar atau
cara untuk meningkatkan kemajuan sekolah khususnya dalam hal pembinaan akhlak
mulia anak didik. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk
menulis tentang permasalahan tersebut dan di tuangkan dalam bentuk makalah yang
berjudul “Manajemen Kurikulum Sekolah Dasar dalam Pembinaan Akhlak Mulia”
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini adalah:
1. Apa Pengertian Manajemen Kurikulum
di Sekolah Dasar?
2. Apa Pengertian Pembinaan Akhlak
Mulia?
3. Apa Saja Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Pembentukan Akhlak?
4. Apa saja Hubungan Kurikulum Terhadap
Pembinaan Akhlak?
5. Apa Peranan Kurikulum dalam
Pembinaan Akhlak Mulia?
C. Tujuan Penulisan.
Berdasarkan rumusan masalah di atas,
maka yang menjadi tujuan penulisan dari permasalahan dalam makalah ini adalah:
1. Menjelaskan Pengertian Manajemen
Kurikulum di Sekolah Dasar.
2. Menjelaskan Pengertian Pembinaan
Akhlak Mulia.
3. Menjelaskan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Pembentukan Akhlak.
4. Menjelaskan Hubungan Kurikulum
Terhadap Pembinaan Akhlak.
5. Menjelaskan Peranan Kurikulum dalam
Pembinaan Akhlak Mulia.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Manajemen Kurikulum di Sekolah
Dasar
Secara etimologi, manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu
dari kata manus yang berarti tangan dan
agree yang berarti melakukan. Kata-kata ini digabungkan menjadi kata kerja
manager yang berarti “menangani”. Kata ini selanjutnya diadopsi dalam bahasa
Italia maneggiare yang berarti “mengendalikan” terutama “mengendalikan kuda”.
Dalam perkembangannya diadopsi kedalam bahasa Prancis management, yang memiliki
arti seni melaksanakan dan mengatur[4].
Manager diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk
kata kerja to manage, dengan kata benda
management, dan manager untuk orang yang
yang melakukan kegiatan manajemen. Kemudian, management diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia menjadi pengelolaan.
Manajemen adalah melakukan pengelolaan sumber daya yang
dimiliki oleh sekolah atau organisasi yang diantaranya adalah manusia, uang,
metode, material, mesin dan pemasaran yang dilakukan dengan sistematis dalam
suatu proses. Menurut Hasibuan, manajemen sebagai ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan
efesien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan menurut Stoner,
manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi pekerjaan organisasi
dan untuk menggunakan sumber daya organisasi yang tesedia untuk mencapai tujuan
organisasi yang dinyatakan dengan jelas[5].
Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka secara umum
dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu kegiatan mendayagunakan orang
dan sumber-sumber lainnya untuk mencapai
tujuan organisasi secara efektif dan efesien yang meliputi perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Istilah kurikulum
(curriculum) berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat terpacu), dan
pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan
sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai
finish untuk memperoleh mendali/penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut
diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject)
yang harus ditempuh oleh seseorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran
untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah..
Berdasarkan pengertian di atas, dalam kurikulum terkandung
dua hal pokok, yaitu:[6]
1.
Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa.
2.
Tujuan
utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah.
Dengan demikian, setiap siswa harus menguasai
seluruh mata pelajaran yang diberikan dan menempatkan guru dalam posisi yang
sangat penting dan menentukan. Istilah kurikulum pada dasarnya tidak hanya
terbatas pada sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup semua pengalaman belajar
yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.
Berikut
pengertian kurikulum menurut beberapa para ahli:
1.
Harold
B. Alberty, kurikulum sebagai kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah
tanggung jawab sekolah.
2.
Saylor,
Alexander, dan lewis, kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk memengaruhi
siswa belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, maupun di luar
sekolah.
3.
Nasution,
kurikulum dalam arti luas meliputi seluruh program di sekolah, yakni segala
pengalaman di bawah tanggung jawab sekolah.
4.
Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan
pembelajaran untuk mencapai pendidikan tertentu.
Jadi, manajemen
kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif,
komprehensif, sistematik, dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan
kurikulum.
B. Pengertian
Pembinaan Akhlak Mulia.
Pembinaan
akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat
dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW. yang utama adalah untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan innama buitstu li utammima makarim al-akhlaq
(H.R Ahmad) (Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).
Perhatian
islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini dapat pula dilihat dari
perhatian islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada
pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akanlahir
perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah
menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan
batin.
Pembinaan
akhlak dalam Islam juga terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman. Hasil
analisis Muhammad al-Ghazali terhadap rukun islam yang lima telah menunjukkan
dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan
akhlak. Rukun islam yang pertama adalah mengucapakan dua kalimah syahadat,
yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad
adalah utusan Allah. Kalimat ini mengandung pernyataan bahwa selama hidupnya
manusia hanya tunduk kepada aturan dan tuntutan Allah. Orang yang tunduk dan
patuh pada aturan Allah dan Rasul-Nya sudah dapat dipastikan akan menjadi orang
yang baik.[7]
Pada
kenyataan dilapangan, usaha-usaha pembinaan akhalak melalui berbagai lembaga
pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini
menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata
membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia,
taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada ibu-bapak, saying kepada sesame
makhluk Tuhan dan seterusnya. Keadaan sebaliknya juga menunjukkan bahwa
anak-anak yang tidak dibina akhlaknya, atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan,
dan pendidikan, ternyata menjdi anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat,
melakukan berbagai perbuatan tercela dan seterusnya.
Ini
menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina. Keadaan pembinaan ini semakin
terasa diperlukan terutama pada saat dimana semakin banyak tantangan dan godaan
sebagai dampak dari kemajuan dibidang iptek. Peristiwa yang baik atau yang
buruk dengan mudah dapat dilihat melalui pesawat televise, internet dan
lain-lain. Demikian pula produk obat-obat terlarang, minuman keras, dan pola
hidup materialistic dan hedonistic semakin menggejala. Semua ini jelas
membutuhkan pembinaan akhlak. Dengan demikian pembentukan akhlak dapat
diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan
menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Potensi rohaniah yang ada dalam diri
manusia dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang tepat.[8]
C.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Pembentukan Akhlak
Untuk
menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak pada khususnya
dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yang sudah amat popular. Pertama
aliran Nativisme. Kedua, aliran Empirisme, dan ketiga aliran konvergensi.
Menurut aliran Nativisme bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap
pembentukan diri seseorang adalah factor pembawaan dari dalam yang bentuknya
dapat berupa kecendrungan, bakat, akal, dan lain-lain.
Jika
seseorang sudah memiliki pembawaan atau kecendrungan kepada yang baik, maka
dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik. Aliran ini tampaknya begitu
yakin terhadap potensi batin yang ada dalam diri manusia, da hal ini
kelihatannyaerat kaitannya dengan pendapat aliran intuisisme dalam hal
penentuan baik dan buruk sebagaimana telah diuraikan diatas. Aliran ini tampak
kurang menghargai atau kurang memperhitungkan peranan pembinaan dan pendidikan.
Selanjutnya menurut aliran Empirisme bahwa factor yang paling berpengaruh
terhadap pembentukan diri seseorang adalah factor dari luar, yaitu lingkungan
social, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan.
Jika
pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anak
itu. Demikian jika sebaliknya. Aliran ini tampak lebih begitu percaya kepada
peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran. Dalam pada itu
aliran konvergensi berpendapat pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor
internal, yaitu pembawaan sianak, dan faktor dari luar yaitu pendidikan dan
pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan
social. Aliran yang ketiga, yakni aliran konvergensi itun tampak sesuai dengan
ajaran islam.
Dengan
demikian faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak pada anak ada dua, yaitu
faktor dari dalam yaitu potensi fisik, intelektual dan hati (rohaniah) yang
dibawa sianak sejak lahir, dan factor dari luar yang dalm ini adalh kedua orang
tua dirumah, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh serta pemimpin dimasyarakat.
Melelui kerja sama yang baik antara tiga lembaga pendidikan tersebut, maka
aspek kognitif ( pengetahuan), efektif (penghayatan), psikomotorik (pengamalan)
ajaran yang diajarkan akan terbentuk pada diri anak. Dan inilah yang
selanjutnya dikenal dengan istilah manusia seutuhnya.[9]
D.
Hubungan Kurikulum Terhadap Pembinaan
Akhlak
Para
pendidik muslim sepakat bahwa tujuan dari pendidikan bukanlah untuk menjejalkan
pemikiran siswa dengan fakta-fakta tetapi mempersiapkan mereka untuk hidup
secara tulus dan ikhlas. Komitmen pembangunan akhlak ini adalah tujuan
tertinggi dalam pendidikan Islam yang sesuai dengan cita-cita Islam. Masyarakat
muslim harus bertekad untuk menanamkan prinsip-prinsip Islam di dalam hati dan
pikiran anak-anaknya untuk mencapai cita-cita Islam, serta untuk melanjutkan
keberlangsungan umat menjadi umat terbaik. Umat terbaik disini bukan hanya umat
yang unggul dalam pengetahuan atau keahlian tertentu, tetapi umat yang mampu mengajak
pada kebaikan dan mencegah keburukan serta beriman kepada Allah.
Guru
merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar.
Peran guru sebagai pengajar yang harus mampu menciptakan kondisi belajar yang
sebaik-baiknya. Selain itu sebagai pembimbing yang memberikan bantuan kepada
setiap siswa mencapai Begitu pentingnya peran guru dalam keberhasilan pendidikan
akhlak di sekolah, maka hendaknya guru harus mampu membuat perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan, dan pengelolaan pembelajaran yang efektfif,
penilaian belajar yang objektif, serta memberikan motivasi pada peserta didik.
Seorang guru harus memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya,
tanpa komitmen yang kuat, suatu tujuan tidak akan tercapai secara optimal.
Sehingga komitmen meruapakan langkah awal dalam menerima, mematuhi, dan
mengemban amanah.
E. Peranan
Kurikulum dalam Pembinaan Akhlak Mulia.
Sangatlah
penting untuk mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam kurikulum (komponen
kurikulum) Kurikulum merupakan ruh sekaligus guide dalam praktik pendidikan di
lingkungan sekolah. Gambaran kualifikasi yang diharapkan melekat pada setiap
lulusan sekolah akan tercermin dalam racikn kurikulum sekolah. Untuk mewujudkan
pendidikan akhlak, maka kurikulum yang disusun harus mencerminkan visi, misi,
dan tujuan sekolah yang berkomitmen terhadap pendidikan akhlak. Langkahlangkah
dalam pengembangan kurikulum dalam pembinaan akhlak mulia antara lain:
1.
Mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan
pendidikan akhlak
2.
Merumuskn
visi, misi, dan tujuan sekolah Sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus
memiliki nilai-nilai luhur yang kuat untuk membina dan mengembangkan potensi
akhlak peserta didik yang tertuang dalam visi, misi, dan tujuan sekolah.
3.
Merumuskan
indikator perilaku peserta didik Indikator dirumuskan dalam bentuk perilaku
peserta didik di kelas dan kegiatan sekolah yang dapat diamati. Indikator ini
digunakan sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pendidikan
akhlak[10].
4.
Mengembangkan
silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran Silabus yaitu garis besar program
pembelajaran yang merupakan hasil produk kegiatan pengembangan desain pembelajaran.
Sedangkan RPP merupakan pegangan guru dalam melaksanakan pembelajran di kelas.
Untuk mewujudkan pendidikan akhlak, maka dalam silabus maupun RPP harus
menginternalisasikan nilai nilai akhlak di dalamnya.
5.
Mengintegrasikan
konten kurikulum pendidikan akhlak ke semua mapel Pengintegrasian ini sesuai
dengan filsafat pendidikan umum yang pada dasarnya untuk mengembangkan
kepribadian secara utuh dan menjadikan warga negara yang berkarakter baik.
Pengintegrasian dalam semua mapel adalah pengenalan nilai, diperolehnya
kesadaran, dan implikasi ke dalam tingkah laku peserta didik.
6.
Mengembangkan
instrumen penilaian pendidikan akhlak. Penilaian pendidikan akhlak dapat
dilihat dari kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, serta peserta didik.
Kegiatan pendidik dan tenaga kependidikan dapat dilihat dari hasil observasi
kepala sekolah terhadap portofolio atau catatan harian mereka dalam
pengembangan dan penerapan pendidikan akhlak. Sedangkan penilaian terhadap
peserta didik dilakukan oleh guru secara terus menerus dan setiap saat baik di
kelas maupun di luar kelas. Kriteria pencapaian pendidikan akhlak adalah
terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, dan kebiasaan yang
dipraktikkan oleh semua warga sekolah.
7.
Membangun
komunikasi dan kerjasama denganm orang tua siswa Beberapa cara untuk mempererat
hubungan antara sekolah dan orang tua:
a.
Mengadakan
pertemuan dengan orang tua di awal tahun pembelajaran untuk menyampaikan visi
misi sekolah terkait pendidikan akhlak.
b.
Mengadakan
surat meyurat terkait program pendidikan akhlak di sekolah maupun di rumah.
c.
Mengadakan
buku penghubug akhlak anak didik yang dipegang orang tua untuk mencatat
perkembangan akhlak siswa di rumah.
d.
Mengunjungi
orang tua siswa untuk menginformasikan secara langsung perkembangan akhlak siswa
di sekolah dan guru mengetatahui perkemnagan akhlak siswa di rumah dari orang
tua.
e.
Mengadakan
kegiatan-kegiatan keagamaan dan kesiswaan yang dihadiri orang tua siswa.
f.
Membentuk
perkumpulan orang tua (komite sekolah)
8.
Mendesain
dan menciptakan budaya sekolah berbasis pendidikan akhlak (komponen
pengelolaan). Langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan akhlak di
sekolah adalah menciptakan iklim budaya sekolah yang berakhlak yang akan
membantu transformasi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik menjadi
warga sekolah yang berakhlak. Hal ini termasuk perwujudan visi, misi, dan
tujuan sekolah. Manajemen iklim budaya sekolah merupakan salah satu kebijakan
yang harus diperhatikan sekolah dalam pelaksanaan pendidikan akhlak.
Pembentukan budaya sekolah berbasis pendidikan akhlak dapatdilakukan melalui
keteladanan, kegiatan spontan saat guru mengetahui perilaku siswa yang kurang
baik, kisah teladaan, serta pengondisian lingkungan sekolah.
Penutup
Kesimpulan
Peran pendidikan adalah menghasilkan
sumber daya manusia yang berdaya guna bagi bangsa dan negara sehingga berdampak
positif pada kemajuan negara tersebut. Dewasa ini banyak pihak menuntut
peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan akhlak pada lembaga
pendidikan khususnya di sekolah-sekolah Islam. Tuntutan tersebut didasarkan
pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam
masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral.
Oleh
karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi
muda diharapkan dapat meningkatkan mutu layanan pendidikan yang mampu
menghasilkan peserta didik yang siap bersaing di era globalisasi dengan tetap
memiliki kekuatan akhlak mulia sehingga terhindar dari pengaruh negatif
modernisasi.
Peningkatan
kualitas pendidikan akhlak bukanlah tugas yang ringan, sehingga menuntut
manajemen yang lebih baik. Sehingga pengembangan pendidikan akhlak dapat
dilaksanakan secara maksimal melalui proses manajemen yang meliputi: perencanna,
pengorganisasian, penggerkkan, dan pengawasan. Strategi yang dapat dilakukan
dalam mengimplementasikan manajemen kurikulum dalam manajemen akhlak mulia di
sekolah Islam adalah dengan melalui:
1.
Mewujudkan
komitmen guru dalam pelaksanaan pendidikan akhlak(komponen guru),
2.
Mengintegrasikan
pendidikan akhlak ke dalam kurikulum (komponen kurikulum),
3.
Membuat
rencana pembiayaan yangberpihak pada pelaksanaan pendidikan akhlak (komponen
pembiayaan), dan
4.
Mendesain
dan menciptakan budaya sekolah berbasis pendidikan akhlak (komponen
pengelolaan).[11]
DAFTAR PUSTAKA
Abrari
Syauki, dkk, Pendidikan Agama Islam Dalam
Keluarga dan Sekolah., Cet
1, Yogyakarta: Aswada Pressindo, 2016
Arikunto,
Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Filsafat
Manajemen Pendidikan Islam
(Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara
Djatnika,
Rachmat , 1996. Sistem Etika Islami
(Akhlak Mulia). Jakarta: Pustaka
Panjimas.
Binti
Maunah, Peran Pendidikan Islam Teori dan
Praktek, Yogyakarta: Teras,
2009
Dadang,
Suhardan. 2007. Peran Kepala Sekolah dengan Bantuan Profesional.
Bandung: Mutiara Ilmu Bandung.
Makawimbang, H. Jerry, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Cet. I;
Bandung: Alfabeta, 2011.
Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Mutu Pendidikan, Jakarta: Gaung
Persada Press,
Cet.I; 2009.
Purwanto,
Ngalim. 2004. Monitoring Evaluasi Pendidikan.
Jakarta:
Remaja Rosdakarya.
Purwanto,
Ngalim. 2003. Administrasi dan Supervisi
Pendidikan. Bandung:
Rosdakarya.
Sahertian,
P.A. 2000.Manajemen Pendidikan karakter
di Madrasah.Jakarta:
Rineka Cipta.
Sujana,
Nana. 2008. Supervisi Akademik (membina
profesionalisme guru melalui
Monitoring)Jakarta: LPP Bina Mitra
Suharsimi
Arikunto,2004, Dasar-Dasar Supervisi.
Jakarta, PT. Rieka Cipta.
Sutisna,
Oteng. 1993. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis untuk Praktek
Profesional. Bandung: Angkasa.
[3] Ngalim Purwanto, Manajemen Pendidikan di Madrasah, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2014, hal. 76
[4] Fitri Oviyanti, dkk. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. (Palembang: Noer Fikri,
2015). Hlm.3-4
[5] Tim Pengembang MKDP. Kurikulum Dan Pembelajaran. (Jakarta:Raja Grafindo
Persada. 2013). Hlm.2
[6] Ngalim Purwanto, kurikuulm Pendidikan
islam di Madrasah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 89.
[7] Rusman, Manajemen
Pembinaan Akhlak Pelalui Kurikulum, (Seri II; Jakarata: PT. Raja Grafindo
Persada : 2009). Hlm. 5
[8] Daryanto,
Factor Pembentukan Akhklak Anak Usia Dini
, (Yogyakarta: Gava Media, 2011), Cet ke 1. Hlm. 45
[9] Daryanto,
Tuti R, (2013) Model Kepemimpinan dan
Kepemimpinan Agribisnis Masa Depan”. Jurnal Pendidikan, hal 42
[10] A.
Dale Timpe, 2002. Seri Manajemen Sumber
Daya Manusia Kepemimpinan. PT Gramedia Asri Media oleh PT Elex Media
Komputindo
[11] A.A. Anwar Prabu
mangkunegara, 2010 Evaluasi Kinerja SDM,
bandung : PT Refika Aditama.hal,53


Tidak ada komentar:
Posting Komentar