Monitoring Kepala Sekolah Terhadap
Peningkatan kinerja Guru dan Pencapaian Mutu Pendidkan di Sekolah
Suatu Kajian
Epistimologi
Disusun Oleh:
FARNIDA
NIM.
2017530387
PROGRAM
PASCASARJANA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MALIKUSSALEH
KOTA LHOKSEUMAWE-ACEH
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Rabb pemilik langit dan bumi, kamibersaksi
bahwa tidak ada Ilah selain Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya, kami
berlindung dari segala keburukan perbuatan kami yang menyimpang, dan kami
memohon selalu bimbingan-Nya Shalawat dan salam selalu tercurah atas Nabi yang mulia,
manusia pilihan, contoh yang paling terbaik bagi manusia yaitu baginda Nabi
Muhammad SAW.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas kuliah dan terima kasih yang
sebesar-besar nya untuk dosen pengampu atas bimbingannya, untuk itu kami telah
berusaha sebaik mungkin dalam penyusunannya, mulai dari pengumpulan sumber,
pencarian informasi yang sesuai dengan tema sampai pada tahap penyusunan telah
penulis lakukan sebaik mungkin, walaupun demikian kami selaku penyusun
menyadari masih terdapat kekurangan dalam makalah ini oleh sebab itu kami
selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
guna menyempurnakan kekurangan yang tentunya ada pada makalah kami ini demikianlah,
semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penyusun dan pembaca sekalian. Selamat
membaca.
Lhokseumawe, 26 April 2018
Penulis
Daftar Isi
KATA PENGANTAR
………………………………………………………
DAFTAR ISI………………………………………………………………..
I.
Pendahuluan....................................................................................... 3
Latar Belakang Masalah.................................................................... 3
Rumusan Masalah.............................................................................. 4
Tujuan penulisan................................................................................ 4
II.
Pembahasan........................................................................................ 5......
A.
Pengertian Monitoring Kepala Sekolah............................................. 5......
B.
Pengertian Kinerja Guru.................................................................... 6......
C.
Karakteristik Mutu
Pendidikan.......................................................... 9
D.
Hubungan antara Monitoring
Kepala Sekolah Terhadap Kinerja
Guru
dan Mutiu Pendidikan di sekolah........................................... 12
III.
Kesimpulan...................................................................................... 13......
Daftar
Pustaka.................................................................................. 14......
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Kepala Sekolah selain sebagai seorang pemimpin
juga berperan sebagai pengawas bagi sekolah yang dipimpinnya, pemimpin pada
hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi
perilaku orang lain didalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Selain
sebagai pemimpin Kepala Sekolah juga berperan sebagai pengawas, pengawasan
merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit
dan luasnya suatu organisasi. Salah satu fungsi dari Kepala Sekolah sebagai
pengawas adalah Monitoring/memantau. Kegiatan Monitoring ini juga terdapat
kegiatan evaluasi yang gunanya untuk mengetahui apakah program yang
direncanakan sudah terlaksana dengan baik apa belum.
Fungsi kepala sekolah sebagai Monitoring dapat membantu
sekolah memberikan balikan bagi perbaikan pelaksanaan Manajemen Peningkatan
Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sekolah yang bermutu memiliki beberapa
karakteristik. Terdapat 13 karakteristik mutu sekolah yang akan dijelaskan
dalam makalah ini..[1]
kepala sekolah harus mampu melakukan
berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga
kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan
pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan
pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga
kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam
melaksanakan pekerjaannya, Kinerja guru-guru dalam
suatu wujud pelaksanaan tugas mendidik dan mengajar perserta didiknya, sangat
banyak juga di tentukan atau dipengaruhi oleh adanya motivasi kerja mereka.
Pembinaan tersebut di lakukan agar guru melaksanakan tugas dengan jujur,
bertanggung jawab, efektif, dan efisien[2]. Oleh karena itu kepala sekolah mempunyai
upaya-upaya atau cara yang baik dalam meningkatkan sekolah. Salah satu upaya
yang ditrapkan kepala sekolah yaitu dengan melaksanakan fungsi monitoring dan
fungsi evaluasi[3].
Dengan demikian, monitoring atau pengawasan dapat menjadi salah satu jalan
keluar atau cara untuk meningkatkan kemajuan sekolah. Berdasarkan latar
belakang tersebut, penulis tertarik untuk menulis tentang permasalahan tersebut
dan di tuangkan dalam bentuk makalah yang berjudul “Monitoring Kepala Sekolah
Terhadap peningkatan Kinerja guru dan Pencapaian Mutu Lulusan”
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini
adalah:
1. Apa pengertian Monitoring Kepala Sekolah?
2. Apa pengertian kinerja guru?
3. karakteristik mutu pendidikan di sekolah?
4. Apa hubungan antara fungsi Monitoring Kepala Sekolah dan kinerja
guru dan pencapaian mutu pendidikan di sekolah?
C. Tujuan
Penulisan.
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari permasalahan dalam
makalah ini adalah:
1. Menjelaskan pengertian Monitoring Kepala Sekolah.
2. Menjelaskan pengertian kinerja guru.
3. Menjelaskan tentang karakteristik
mutu pendidikan di sekolah.
4. Menjelaskan hubungan antara fungsi Monitoring Kepala Sekolah dan kinerja
guru dan pencapaian mutu pendidikan di sekolah.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Monitoring
Kepala Sekolah
Kepala Sekolah selain
sebagai seorang pemimpin juga berperan sebagai pengawas bagi sekolah yang
dipimpinnya, mengatakan bahwa pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang
mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain didalam kerjanya
dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan
mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilakukannya.
Selain sebagai pemimpin
Kepala Sekolah juga berperan sebagai pengawas, pengawasan merupakan proses
dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya
suatu organisasi. Salah satu fungsi dari Kepala Sekolah sebagai pengawas adalah
Monitoring atau memantau. Kegiatan Monitoring ini juga terdapat kegiatan
evaluasi yang gunanya untuk mengetahui apakah program yang direncanakan sudah
terlaksana dengan baik atau belum.
Adapun pengertian, tujuan
dan komponen-komponen yang dievaluasi sebagai berikut:[4]
1.
Pengertian Monitoring dan
evaluasi
Monitoring
lebih menekankan pada proses pelaksanaan: pembuatan keputusan, pengelolaan
kelembagaan, pengelolaan program, pengelolaan proses belajar mengajar dan
evaluasi. Sedangkan Evaluasi lebih menekankan tagihan terhadap hasil:
pembandingan sasaran yang telah ditetapkan dengan hasil yang dicapai.
2.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan
Monitoring dan evaluasi adalah memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk
pembuatan keputusan. Hasil Monitoring untuk memberikan balikan bagi perbaikan
pelaksanaan. Hasil evaluasi memberikan informasi yang dapat dijadikan masukan
terhadap keseluruhan komponen program berupa konteks, input, proses, output dan
outcome, terkadang dalam hal ini monitoring sama dengan evaluasi proses dalam
totalitas sistem pelaksanaan.
B.
Pengertian
Kinerja Guru
Kata kinerja merupakan terjemahan dari bahasa
Inggris, yaitu dari kata performance.
Kata performance berasal dari kata to
perform yang berarti menampilkan atau melaksanakan. Dalam kamus besar bahasa
Indonesia kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan,
atau kemampuan kerja.Menurut Mangkunegara, kinerja adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh pengawai dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya,kinerja merupakan
prestasi nyata yang ditampilkan seseorang setelah yang bersangkutan menjalankan
tugas dan perannya dalam organisasi.
Kinerja juga mengacu kepada kadar pencapain
tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan seseorang. Kinerja merefleksikan
seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan. nBerdasarkan
pernyataan di atas, dapat di simpulkan bahwa kinerja adalah tingkat
keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah
ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan organisasi.[5]
Sementara itu, guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran siswa. Oleh sebab itu,
guru sebagai kuli pendidikan yang profesional di kelas pembelajaran siswa
menuju kepribadian yang utuh, menyaratkan sepuluh kompetensi dasar yang harus
melekat padanya. Sepuluh kompetensi ini, menurut Nana Sudjana, A.Muri Yusuf,
dan Rochman Natawidjaja adalah sebagai berikut:
1)
Menguasai bahan yang akan diajarkan.
2)
Mengelola program belajar mengajar
3)
Mengelola kelas
4)
Menggunakan media/sumber belajar
5)
Menguasai landasan-landasan kependidikan
6)
Mengelola interaksi belajar mengajar
7)
Menilai prestasi siswa
8)
Mengenal fungsi dan program bimbingan dan
konseling
9)
Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10) Memahami
prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian
Terdapat beberapa model kinerja (performance) guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar, di antaranya adalah:[6]
A.
Model Rob Norris menyaratkan akumulasinya
beberapa komponen kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru,
yaitu:
1. Kualitas-kualitas
personal dan professional
2. Persiapan mengajar
3. Perumusan
tujuan pengajaran
4. Penampilan
guru dalam mengajar di kelas
5. Penampilan
siswa dalam belajar dan
6. Evaluasi.
B.
Model Oregan mengelompokkan
kompetensi/kemampuan mengajar ke dalam lima kelompok, yaitu:
1. Perencanaan
dan persiapan mengajar.
2. Kemampuanan
guru dalam mengajar dan kemampuan siswa dalam belajar.
3. Kemampuan
mengumpulkan dan menggunakan informasi hasil belajar
4. Kemampuan
hubungan interpersonal yang meliputi siwa, supervisor dan guru sejawat
5. Kemampuan hubungan dengan tanggung jawab professional
C.
Model Stanford membagi kemampuan mengajar
guru ke dalam lima komponen. Tiga dari lima komponen tersebut dapat diobservasi
di kelas meliputi, komponen tujuan, komponen guru mengajar, dan komponen
evaluasi
C.
Karakteristik
Mutu Pendidikan Di Sekolah
Mutu berasal dari bahasa Latin, quals, yang
artinya what kind of. Mutu yang absolut ialah mutu yang idealismenya tinggi dan
harus dipenuhi, berstandar tinggi, dengan sifat produk bergengsi tinggi,
biasanya mahal, sangat mewah dan jarang dimiliki orang. Misalnya, mobil mewah,
rumah mewah, perhiasan mewah dan interior president room di hotel bintang 5.
Mutu dengan konsep berarti harus high quality atau top quality. Mutu sendiri
dapat didefinisikan sebagai tingkat keunggulan. Mutu dapat juga diartikan
sebagai produk atau jasa yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan
dan memuaskan pelanggan.
Mutu di bidang pendidikan meliputi mutu input, proses, output dan outcome. Input
pendidikan dinyatakan bermutu jika siap berproses. Proses pendidikan bermutu
apabila mampu menciptakan suasana yang PAKEMI (Pembelajaran yang Aktif,
Kreatif, Menyenangkan, Bermakna dan Inovatif). Output dinyatakan bermutu jika
hasil belajar akademik dan nonakademik siswa tinggi. Outcome dinyatakan bermutu
apabila lulusan cepat terserap di dunia kerja, gaji wajar, semua pihak mengakui
kehebatan lulusan dan merasa puas.
Mutu bermanfaat bagi dunia pendidikan karena
1) meningkatkan pertanggungjawaban (akuntabilitas) sekolah kepada masyarakat
dan atau pemerintah yang telah memberikan suma biaya sekolah, 2) menjamin mutu
lulusannya, 3) bekerja lebih professional dan 4) meningkatkan persaingan yang
sehat.
Sekolah
yang bermutu memiliki beberapa karakteristik. Berikut akan dijelaskan tentang beberapa
karakteristik mutu:[7]
1.
Kinerja
(performa): berkaitan dengan aspek
fungsional sekolah.
Misalnya: kinerja guru dalam mengajar
baik, memberikan penjelasan meyakinkan, sehat dan rajin mengajar dan menyiapkan
bahan pelajaran lengkap. Pelayanan administratif dan edukatif sekolah baik yang
ditandai hasil belajar tinggi, lulusannya banyak, putus sekolah sedikit dan
yang lulus tepat waktu banyak. Akibat kinerja yang baik maka sekolah tersebut
menjadi sekolah favorit.
2.
Waktu
wajar (timelines): selesai dengan
waktu yang wajar.
Misalnya: memulai dan mengakhiri
pelajaran tepat waktu. Waktu ulangan tepat. Batas waktu pemberian pekerjaan
rumah wajar. Waktu guru untuk naik pangkat wajar.
3.
Handal
(reliability): usia pelayanan prima
bertahan lama.
Misalnya: pelayanan prima yang diberikan
sekolah bertahan dari tahun ke tahun, mutu sekolah tetap bertahan dari tahun ke
tahun. Sebagai sekolah favorit bertahan dari tahun ke tahun. Guru jarang sakit.
Kerja keras guru bertahan dari tahun ke tahun.
4.
Daya tahan (durability): tahan banting.
Misalnya: meskipun krisis moneter,
sekolah masih tetap bertahan, tidak tutup. Siswa dan guru tidak putus asa dan
selalu sehat.
5.
Indah
(aestetics)
Misalnya: eksterior dan interior sekolah
ditata menarik. Taman ditamani bunga dan dipelihara dengan baik. Guru-guru
membuat media pendidikan yang menarik. Warga sekolah berpenampilan rapi.
6.
Hubungan manusiawi (personal interface):
menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme.
Misalnya: warga sekolah saling
menghormati, baik warga intern maupun ekstern sekolah, demokratis dan
menghargai profesionalisme.
7.
Mudah
penggunaannya (easy to use). Sarana
dan prasarana yang dipakai.
Misalnya: aturan-aturan sekolah mudah
diterapkan. Buku-buku perpus mudah dipinjam dan dikembalikan tepat waktu.
Penjelasan guru di kelas mudah dimengerti siswa. Contoh soal mudah dipahami.
Demonstrasi praktik mudah diterapkan siswa.
8.
Bentuk
khusus (feature): keunggulan
tertentu.
Misalnya: sekolah ada yang unggul dengan
hampir semua lulusannya diterima di universitas bermutu. Unggul dengan bahasa
Inggrisnya. Unggul dengan penguasaan teknologi informasinya (komputerisasi).
Ada yang unggul dengan karya ilmiah kesenian atau olahraga.
9.
Standar
tertentu (conformance to specification):
memenuhi standar tertentu.
Misalnya: sekolah sudah memenuhi Standar
Pelayanan Minimal (SMP), sekolah sudah memenuhi standar minimal ujian nasional
atau sekolah sudah memenuhi ISO 9001:2000 atau sekolah sudah memenuhi TOEFL
dengan skor 650[8].
10. Konsistensi (consistency): keajegan, konstan atau stabil.
Misalnya: mutu sekolah dari dahulu
sampai sekarang tidak menurun seperti harus mengatrol nilai siwa-siswanya.
Warga sekolah konsisten antara perkataan dan perbuatan. Apabila berkata tidak
berbohong dan apabila dipercayan tidak mengkhianati.
11. Seragam (uniformity): tanpa variasi, tidak tercampur.
Misalnya: sekolah menyeragamkan pakaian
sekolah dan pakaian dinas. Sekolah
melaksanakan aturan, tidak pandang bulu atau pilih kasih.
12. Mampu melayani (serviceability): mampu memberikan pelayanan prima.
Misalnya: sekolah memberikan kotak saran
dan saran-saran yang masuk mampu dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Sekolah mampu
memberikan pelayanan primanyankepada pelanggan sekolah sehingga semua pelanggan
merasa puas.
13. Ketepatan (accuracy): ketepatan dalam pelaksanaan.
Misalnya: sekolah mampu memberikan
pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sekolah, guru-guru tidak
salah dalam menilai siswa-siswanya. Semua warga sekolah bekerja dengan teliti.
Jam belajar di sekolah berlangsung tepat waktu.
14. Mutu meliputi: 1) mutu produk, 2) mutu
biaya, 3) mutu penyerahan, 4) mutu keselamatan dan 5) mutu semangat/moril.
Secara sederhana mutu memiliki karakteristik: 1) spesifikasi, 2) jumlah, 3)
harga dan 4) ketepatan waktu penyerahan.
D.
Hubungan Antara Fungsi Monitoring Kepala
Sekolah terhadap Peningkatan kinerja Guru Dan Mutu Pendidikan Di Sekolah.
Dengan
demikian dapat dipahami bahwa adanya hubungan antara monitoring yang dilakukan
oleh kepala sekolah terhadap peningkatan kinerja guru dan akan membawa dampak
terhadap peningkatan mutu pendidikan di suatu sekolah, semakin baik monitoring
yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap kinerja guru, maka akan semakin
baik pula mutu pendidikan di sekolah tersebut karena, salah satu fungsi dari
Kepala Sekolah sebagai pengawas adalah Monitoring
atau memantau[9].
Kegiatan
Monitoring ini juga terdapat kegiatan evaluasi yang gunanya untuk mengetahui
apakah program yang direncanakan sudah terlaksana dengan baik apa belum. Monitoring lebih menekankan pada proses
pelaksanaan pembuatan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program,
pengelolaan proses belajar mengajar dan evaluasi. Sedangkan evaluasi lebih
menekankan tagihan terhadap hasil
pembandingan sasaran yang telah ditetapkan dengan hasil yang dicapai. Tujuan
kegiatan monitoring monitoring dan evaluasi program sekolah adalah:
1.
Menyediakan
informasi yang relevan dan tepat waktu pada pelaksanaan program sekolah yang
akan membantu pembuatan keputusan manajemen satuan pendidikan.
2.
Mendorong
diskusi mengenai kemajuan pelaksanaan program sekolah bersama para guru, dan
merencanakan berbagai tindakan yang diperlukan.
3.
Menyumbang
pada akuntabilitas. Kepala sekolah perlu mengetahui bahwa pelaksanaan program
sekolah yang sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan program
sekolah yang telah dibuat, sesuai kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan
sesuai dengan tujuan pada tingkat satuan pendidikan.
4.
Menyediakan
sumber informasi kemajuan/prestasi utama bagi para pengambil keputusan
5.
Memberikan
masukan terhadap pengambilan keputusan. Apakah pelaksanaan program sekolah yang
telah dilaksanakan sudah cukup baik, atau perlu adanya inovasi dan revisi dalam
pelaksanaan program sekolah tahun berikutnya.
E. Kesimpulan
Monitoring
dan evaluasi, pada umumnya menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk
pengambilan keputusan. Oleh karena itu, monitoring dan evaluasi yang bermanfaat
adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat, tepat,
dan cukup untuk pengambilan keputusan. Standar monitoring dan evaluasi yang
harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh sekolah antara lain: aspek-aspek program
pengawasan, evaluasi diri, evaluasi dan pengembangan, evaluasi pendayagunaan
pendidik dan tenaga kependidikan, serta akreditasi sekolah.
Monitoring
dan evaluasi terhadap pengelolaan sekolah bertujuan untuk mendapatkan informasi
yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Hasil monitoring dapat digunakan
untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan pengelolaan
sekolah. Masukan-masukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan
untuk pengambilan keputusan, dengan demikian dapat dipahami bahwa adanya hubungan
antara monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap peningkatan
kinerja guru dan akan membawa dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan di
suatu sekolah, semakin baik monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah
terhadap kinerja guru maka akan semakin baik pula mutu pendidikan di sekolah
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abrari Syauki, dkk, Gaya
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Pemdidikan, Cet
1, Yogyakarta: Aswada
Pressindo, 2016
Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi).
Jakarta: Bumi Aksara
Aqib, Zainal. Rohmanto, Ilham. 2008. Membangun Profesionalisme Guru dan
Pengawas
Sekolah. Bandung: Yrama Widya.
Binti Maunah, Peran
Pendidikan Islam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Teras,
2009
Dadang, Suhardan. 2007. Peran Kepala Sekolah dengan Bantuan
Profesional.
Bandung: Mutiara Ilmu Bandung.
Makawimbang, H. Jerry, Supervisi dan Peningkatan
Mutu Pendidikan. Cet. I;
Bandung: Alfabeta, 2011.
Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Mutu Pendidikan, Jakarta: Gaung
Persada Press, Cet.I; 2009.
Purwanto, Ngalim. 2004. Monitoring Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Remaja Rosdakarya.
Purwanto, Ngalim. 2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Rosdakarya.
Sahertian, P.A. 2000. Konsep
Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam
Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sujana, Nana. 2008. Supervisi
Akademik (membina profesionalisme guru melalui
Monitoring)Jakarta:
LPP Bina Mitra.
Suharsimi Arikunto,2004, Dasar-Dasar Supervisi. Jakarta, PT. Rieka Cipta.
Kemenang
DIY, 2012), h. 15
[3] Ngalim Purwanto, Administrasi dan
Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal.
89
[4] Ngalim Purwanto, Administrasi dan
Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal.
89.
[5] Charisatuniswah,
dkk., Buku Kerja Pengawas Madrasah. (Yogyakarta: Mapenda Kanwil Kemenang DIY, 2012),
h. 19
[6] Daryanto,
kepala sekolah sebagai pemimpin
pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2011), Cet ke 1. Hlm. 45
[7] Daryanto,
Tuti R, (2013) Model Kepemimpinan dan
Kepemimpinan Agribisnis Masa Depan”. Jurnal Pendidikan, hal 42
[8] A.
Dale Timpe, 2002. Seri Manajemen Sumber
Daya Manusia Kepemimpinan. PT Gramedia Asri Media oleh PT Elex Media
Komputindo
[9] A.A. Anwar Prabu
mangkunegara, 2010 Evaluasi Kinerja SDM,
bandung : PT Refika Aditama.hal,53


Tidak ada komentar:
Posting Komentar