Sabtu, 07 Juli 2018

Monitoring Kepala Sekolah Terhadap Peningkatan kinerja Guru dan Pencapaian Mutu Pendidkan di Sekolah








Monitoring Kepala Sekolah Terhadap Peningkatan kinerja Guru dan Pencapaian Mutu Pendidkan di Sekolah
Suatu Kajian Epistimologi

Disusun Oleh:
FARNIDA
NIM. 2017530387







PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MALIKUSSALEH KOTA LHOKSEUMAWE-ACEH








KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Rabb pemilik langit dan bumi, kamibersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya, kami berlindung dari segala keburukan perbuatan kami yang menyimpang, dan kami memohon selalu bimbingan-Nya Shalawat dan salam selalu tercurah atas Nabi yang mulia, manusia pilihan, contoh yang paling terbaik bagi manusia yaitu baginda Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas kuliah dan terima kasih yang sebesar-besar nya untuk dosen pengampu atas bimbingannya, untuk itu kami telah berusaha sebaik mungkin dalam penyusunannya, mulai dari pengumpulan sumber, pencarian informasi yang sesuai dengan tema sampai pada tahap penyusunan telah penulis lakukan sebaik mungkin, walaupun demikian kami selaku penyusun menyadari masih terdapat kekurangan dalam makalah ini oleh sebab itu kami selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan kekurangan yang tentunya ada pada makalah kami ini demikianlah, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penyusun dan pembaca sekalian. Selamat membaca.
Lhokseumawe, 26 April 2018

    Penulis




Daftar Isi
KATA PENGANTAR ………………………………………………………
DAFTAR ISI………………………………………………………………..       
I.                    Pendahuluan....................................................................................... 3      
Latar Belakang Masalah.................................................................... 3
Rumusan Masalah.............................................................................. 4
Tujuan penulisan................................................................................ 4
II.                    Pembahasan........................................................................................ 5......
A.    Pengertian Monitoring Kepala Sekolah............................................. 5......
B.    Pengertian Kinerja Guru.................................................................... 6......
C.    Karakteristik Mutu Pendidikan.......................................................... 9      
D.    Hubungan antara Monitoring Kepala Sekolah Terhadap Kinerja
Guru dan Mutiu Pendidikan di sekolah........................................... 12
III.                    Kesimpulan...................................................................................... 13......
Daftar Pustaka.................................................................................. 14......








Pendahuluan

A.      Latar Belakang Masalah
         Kepala Sekolah selain sebagai seorang pemimpin juga berperan sebagai pengawas bagi sekolah yang dipimpinnya, pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain didalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Selain sebagai pemimpin Kepala Sekolah juga berperan sebagai pengawas, pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi. Salah satu fungsi dari Kepala Sekolah sebagai pengawas adalah Monitoring/memantau. Kegiatan Monitoring ini juga terdapat kegiatan evaluasi yang gunanya untuk mengetahui apakah program yang direncanakan sudah terlaksana dengan baik apa belum.
Fungsi kepala sekolah sebagai Monitoring dapat membantu sekolah memberikan balikan bagi perbaikan pelaksanaan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sekolah yang bermutu memiliki beberapa karakteristik. Terdapat 13 karakteristik mutu sekolah yang akan dijelaskan dalam makalah ini..[1]    
       kepala sekolah harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya, Kinerja guru-guru dalam suatu wujud pelaksanaan tugas mendidik dan mengajar perserta didiknya, sangat banyak juga di tentukan atau dipengaruhi oleh adanya motivasi kerja mereka. Pembinaan tersebut di lakukan agar guru melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, efektif, dan efisien[2]. Oleh karena itu kepala sekolah mempunyai upaya-upaya atau cara yang baik dalam meningkatkan sekolah. Salah satu upaya yang ditrapkan kepala sekolah yaitu dengan melaksanakan fungsi monitoring dan fungsi evaluasi[3]. Dengan demikian, monitoring atau pengawasan dapat menjadi salah satu jalan keluar atau cara untuk meningkatkan kemajuan sekolah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk menulis tentang permasalahan tersebut dan di tuangkan dalam bentuk makalah yang berjudul “Monitoring Kepala Sekolah Terhadap peningkatan Kinerja guru dan Pencapaian Mutu Lulusan”

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.     Apa pengertian Monitoring Kepala Sekolah?
2.     Apa pengertian kinerja guru?
3.      karakteristik mutu pendidikan di sekolah?
4.     Apa hubungan antara fungsi Monitoring Kepala Sekolah dan kinerja guru dan pencapaian mutu pendidikan di sekolah?

C.    Tujuan Penulisan.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.     Menjelaskan pengertian Monitoring Kepala Sekolah.
2.     Menjelaskan pengertian kinerja guru.
3.     Menjelaskan tentang karakteristik mutu pendidikan di sekolah.
4.     Menjelaskan hubungan antara fungsi Monitoring Kepala Sekolah dan kinerja guru dan pencapaian mutu pendidikan di sekolah.




PEMBAHASAN

A.    Pengertian Monitoring Kepala Sekolah
Kepala Sekolah selain sebagai seorang pemimpin juga berperan sebagai pengawas bagi sekolah yang dipimpinnya, mengatakan bahwa pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain didalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilakukannya.
Selain sebagai pemimpin Kepala Sekolah juga berperan sebagai pengawas, pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi. Salah satu fungsi dari Kepala Sekolah sebagai pengawas adalah Monitoring atau memantau. Kegiatan Monitoring ini juga terdapat kegiatan evaluasi yang gunanya untuk mengetahui apakah program yang direncanakan sudah terlaksana dengan baik atau belum.
Adapun pengertian, tujuan dan komponen-komponen yang dievaluasi sebagai berikut:[4]
1.     Pengertian Monitoring dan evaluasi
Monitoring lebih menekankan pada proses pelaksanaan: pembuatan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, pengelolaan proses belajar mengajar dan evaluasi. Sedangkan Evaluasi lebih menekankan tagihan terhadap hasil: pembandingan sasaran yang telah ditetapkan dengan hasil yang dicapai.
2.     Tujuan dan Manfaat
Tujuan Monitoring dan evaluasi adalah memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk pembuatan keputusan. Hasil Monitoring untuk memberikan balikan bagi perbaikan pelaksanaan. Hasil evaluasi memberikan informasi yang dapat dijadikan masukan terhadap keseluruhan komponen program berupa konteks, input, proses, output dan outcome, terkadang dalam hal ini monitoring sama dengan evaluasi proses dalam totalitas sistem pelaksanaan.

B.      Pengertian Kinerja Guru
Kata kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu dari kata performance. Kata performance berasal dari kata to perform yang berarti menampilkan atau melaksanakan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja.Menurut Mangkunegara, kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh pengawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya,kinerja merupakan prestasi nyata yang ditampilkan seseorang setelah yang bersangkutan menjalankan tugas dan perannya dalam organisasi.
Kinerja juga mengacu kepada kadar pencapain tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan seseorang. Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan. nBerdasarkan pernyataan di atas, dapat di simpulkan bahwa kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan organisasi.[5]
Sementara itu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran siswa. Oleh sebab itu, guru sebagai kuli pendidikan yang profesional di kelas pembelajaran siswa menuju kepribadian yang utuh, menyaratkan sepuluh kompetensi dasar yang harus melekat padanya. Sepuluh kompetensi ini, menurut Nana Sudjana, A.Muri Yusuf, dan Rochman Natawidjaja adalah sebagai berikut:
1)          Menguasai bahan yang akan diajarkan.
2)          Mengelola program belajar mengajar
3)          Mengelola kelas
4)          Menggunakan media/sumber belajar
5)          Menguasai landasan-landasan kependidikan
6)          Mengelola interaksi belajar mengajar
7)          Menilai prestasi siswa
8)          Mengenal fungsi dan program bimbingan dan konseling
9)          Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10)       Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian
Terdapat beberapa model kinerja (performance) guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, di antaranya adalah:[6]
A.    Model Rob Norris menyaratkan akumulasinya beberapa komponen kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu:
1.     Kualitas-kualitas personal dan professional
2.      Persiapan mengajar
3.     Perumusan tujuan pengajaran
4.     Penampilan guru dalam mengajar di kelas
5.     Penampilan siswa dalam belajar dan
6.     Evaluasi.
B.    Model Oregan mengelompokkan kompetensi/kemampuan mengajar ke dalam lima kelompok, yaitu:
1.     Perencanaan dan persiapan mengajar.
2.     Kemampuanan guru dalam mengajar dan kemampuan siswa dalam belajar.
3.     Kemampuan mengumpulkan dan menggunakan informasi hasil belajar
4.     Kemampuan hubungan interpersonal yang meliputi siwa, supervisor dan guru sejawat
5.      Kemampuan hubungan dengan tanggung jawab professional
C.    Model Stanford membagi kemampuan mengajar guru ke dalam lima komponen. Tiga dari lima komponen tersebut dapat diobservasi di kelas meliputi, komponen tujuan, komponen guru mengajar, dan komponen evaluasi

C.      Karakteristik Mutu Pendidikan Di Sekolah
Mutu berasal dari bahasa Latin, quals, yang artinya what kind of. Mutu yang absolut ialah mutu yang idealismenya tinggi dan harus dipenuhi, berstandar tinggi, dengan sifat produk bergengsi tinggi, biasanya mahal, sangat mewah dan jarang dimiliki orang. Misalnya, mobil mewah, rumah mewah, perhiasan mewah dan interior president room di hotel bintang 5. Mutu dengan konsep berarti harus high quality atau top quality. Mutu sendiri dapat didefinisikan sebagai tingkat keunggulan. Mutu dapat juga diartikan sebagai produk atau jasa yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan dan memuaskan pelanggan.
Mutu di bidang pendidikan meliputi mutu  input, proses, output dan outcome. Input pendidikan dinyatakan bermutu jika siap berproses. Proses pendidikan bermutu apabila mampu menciptakan suasana yang PAKEMI (Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Menyenangkan, Bermakna dan Inovatif). Output dinyatakan bermutu jika hasil belajar akademik dan nonakademik siswa tinggi. Outcome dinyatakan bermutu apabila lulusan cepat terserap di dunia kerja, gaji wajar, semua pihak mengakui kehebatan lulusan dan merasa puas.
Mutu bermanfaat bagi dunia pendidikan karena 1) meningkatkan pertanggungjawaban (akuntabilitas) sekolah kepada masyarakat dan atau pemerintah yang telah memberikan suma biaya sekolah, 2) menjamin mutu lulusannya, 3) bekerja lebih professional dan 4) meningkatkan persaingan yang sehat.
Sekolah yang bermutu memiliki beberapa karakteristik. Berikut akan dijelaskan tentang beberapa karakteristik mutu:[7]
1.     Kinerja (performa): berkaitan dengan aspek fungsional sekolah.
Misalnya: kinerja guru dalam mengajar baik, memberikan penjelasan meyakinkan, sehat dan rajin mengajar dan menyiapkan bahan pelajaran lengkap. Pelayanan administratif dan edukatif sekolah baik yang ditandai hasil belajar tinggi, lulusannya banyak, putus sekolah sedikit dan yang lulus tepat waktu banyak. Akibat kinerja yang baik maka sekolah tersebut menjadi sekolah favorit.
2.     Waktu wajar (timelines): selesai dengan waktu yang wajar.
Misalnya: memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu. Waktu ulangan tepat. Batas waktu pemberian pekerjaan rumah wajar. Waktu guru untuk naik pangkat wajar.
3.     Handal (reliability): usia pelayanan prima bertahan lama.
Misalnya: pelayanan prima yang diberikan sekolah bertahan dari tahun ke tahun, mutu sekolah tetap bertahan dari tahun ke tahun. Sebagai sekolah favorit bertahan dari tahun ke tahun. Guru jarang sakit. Kerja keras guru bertahan dari tahun ke tahun.
4.      Daya tahan (durability): tahan banting.
Misalnya: meskipun krisis moneter, sekolah masih tetap bertahan, tidak tutup. Siswa dan guru tidak putus asa dan selalu sehat.
5.     Indah (aestetics)
Misalnya: eksterior dan interior sekolah ditata menarik. Taman ditamani bunga dan dipelihara dengan baik. Guru-guru membuat media pendidikan yang menarik. Warga sekolah berpenampilan rapi.
6.      Hubungan manusiawi (personal interface): menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme.
Misalnya: warga sekolah saling menghormati, baik warga intern maupun ekstern sekolah, demokratis dan menghargai profesionalisme.
7.     Mudah penggunaannya (easy to use). Sarana dan prasarana yang dipakai.
Misalnya: aturan-aturan sekolah mudah diterapkan. Buku-buku perpus mudah dipinjam dan dikembalikan tepat waktu. Penjelasan guru di kelas mudah dimengerti siswa. Contoh soal mudah dipahami. Demonstrasi praktik mudah diterapkan siswa.
8.     Bentuk khusus (feature): keunggulan tertentu.
Misalnya: sekolah ada yang unggul dengan hampir semua lulusannya diterima di universitas bermutu. Unggul dengan bahasa Inggrisnya. Unggul dengan penguasaan teknologi informasinya (komputerisasi). Ada yang unggul dengan karya ilmiah kesenian atau olahraga.
9.     Standar tertentu (conformance to specification): memenuhi standar tertentu.
Misalnya: sekolah sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SMP), sekolah sudah memenuhi standar minimal ujian nasional atau sekolah sudah memenuhi ISO 9001:2000 atau sekolah sudah memenuhi TOEFL dengan skor 650[8].
10.  Konsistensi (consistency): keajegan, konstan atau stabil.
Misalnya: mutu sekolah dari dahulu sampai sekarang tidak menurun seperti harus mengatrol nilai siwa-siswanya. Warga sekolah konsisten antara perkataan dan perbuatan. Apabila berkata tidak berbohong dan apabila dipercayan tidak mengkhianati.
11.  Seragam (uniformity): tanpa variasi, tidak tercampur.
Misalnya: sekolah menyeragamkan pakaian sekolah dan pakaian dinas.  Sekolah melaksanakan aturan, tidak pandang bulu atau pilih kasih.
12.  Mampu melayani (serviceability): mampu memberikan pelayanan prima.
Misalnya: sekolah memberikan kotak saran dan saran-saran yang masuk mampu dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Sekolah mampu memberikan pelayanan primanyankepada pelanggan sekolah sehingga semua pelanggan merasa puas.
13.  Ketepatan (accuracy): ketepatan dalam pelaksanaan.
Misalnya: sekolah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sekolah, guru-guru tidak salah dalam menilai siswa-siswanya. Semua warga sekolah bekerja dengan teliti. Jam belajar di sekolah berlangsung tepat waktu.
14.  Mutu meliputi: 1) mutu produk, 2) mutu biaya, 3) mutu penyerahan, 4) mutu keselamatan dan 5) mutu semangat/moril. Secara sederhana mutu memiliki karakteristik: 1) spesifikasi, 2) jumlah, 3) harga dan 4) ketepatan waktu penyerahan.

D.          Hubungan Antara Fungsi Monitoring Kepala Sekolah terhadap Peningkatan kinerja Guru Dan Mutu Pendidikan Di Sekolah.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa adanya hubungan antara monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap peningkatan kinerja guru dan akan membawa dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan di suatu sekolah, semakin baik monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap kinerja guru, maka akan semakin baik pula mutu pendidikan di sekolah tersebut karena, salah satu fungsi dari Kepala Sekolah sebagai pengawas adalah Monitoring atau memantau[9].
Kegiatan Monitoring ini juga terdapat kegiatan evaluasi yang gunanya untuk mengetahui apakah program yang direncanakan sudah terlaksana dengan baik apa belum.  Monitoring lebih menekankan pada proses pelaksanaan pembuatan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, pengelolaan proses belajar mengajar dan evaluasi. Sedangkan evaluasi lebih menekankan tagihan terhadap hasil  pembandingan sasaran yang telah ditetapkan dengan hasil yang dicapai. Tujuan kegiatan monitoring monitoring dan evaluasi program sekolah adalah:
1.     Menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu pada pelaksanaan program sekolah yang akan membantu pembuatan keputusan manajemen satuan pendidikan.
2.     Mendorong diskusi mengenai kemajuan pelaksanaan program sekolah bersama para guru, dan merencanakan berbagai tindakan yang diperlukan.
3.     Menyumbang pada akuntabilitas. Kepala sekolah perlu mengetahui bahwa pelaksanaan program sekolah yang sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan program sekolah yang telah dibuat, sesuai kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan sesuai dengan tujuan pada tingkat satuan pendidikan.
4.     Menyediakan sumber informasi kemajuan/prestasi utama bagi para pengambil keputusan
5.     Memberikan masukan terhadap pengambilan keputusan. Apakah pelaksanaan program sekolah yang telah dilaksanakan sudah cukup baik, atau perlu adanya inovasi dan revisi dalam pelaksanaan program sekolah tahun berikutnya.

E.      Kesimpulan
Monitoring dan evaluasi, pada umumnya menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu, monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat, tepat, dan cukup untuk pengambilan keputusan. Standar monitoring dan evaluasi yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh sekolah antara lain: aspek-aspek program pengawasan, evaluasi diri, evaluasi dan pengembangan, evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan, serta akreditasi sekolah.
Monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan sekolah bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan pengelolaan sekolah. Masukan-masukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan, dengan demikian dapat dipahami bahwa adanya hubungan antara monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap peningkatan kinerja guru dan akan membawa dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan di suatu sekolah, semakin baik monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap kinerja guru maka akan semakin baik pula mutu pendidikan di sekolah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Abrari Syauki, dkk, Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Pemdidikan, Cet
1, Yogyakarta: Aswada Pressindo, 2016

Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi).
Jakarta: Bumi Aksara

Aqib, Zainal. Rohmanto, Ilham. 2008. Membangun Profesionalisme Guru dan
Pengawas Sekolah. Bandung: Yrama Widya.

Binti Maunah, Peran Pendidikan Islam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Teras,
2009

Dadang, Suhardan. 2007. Peran Kepala Sekolah dengan Bantuan Profesional.
Bandung: Mutiara Ilmu  Bandung.

Makawimbang, H. Jerry, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Cet. I;
Bandung: Alfabeta, 2011.

Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Mutu Pendidikan, Jakarta: Gaung
Persada Press, Cet.I; 2009.

Purwanto, Ngalim. 2004. Monitoring Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Remaja Rosdakarya.

Purwanto, Ngalim. 2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Rosdakarya.

Sahertian, P.A. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam
Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Sujana, Nana. 2008. Supervisi Akademik (membina profesionalisme guru melalui
Monitoring)Jakarta: LPP Bina Mitra.

Suharsimi Arikunto,2004, Dasar-Dasar Supervisi. Jakarta, PT. Rieka Cipta.



       [1] Daryanto, kepala Sekolah Sebagai Monitoring Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2011), Cet ke 1. Hlm.17.
       [2]Charisatuniswah, dkk., Buku Kerja Pengawas Madrasah. (Yogyakarta: Mapenda Kanwil
Kemenang DIY, 2012), h. 15
[3] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 89
[4] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 89.
[5] Charisatuniswah, dkk., Buku Kerja Pengawas Madrasah. (Yogyakarta: Mapenda Kanwil Kemenang DIY, 2012), h. 19
[6] Daryanto, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2011), Cet ke 1. Hlm. 45
[7] Daryanto, Tuti R, (2013) Model Kepemimpinan dan Kepemimpinan Agribisnis Masa Depan”. Jurnal Pendidikan, hal 42
[8] A. Dale Timpe, 2002. Seri Manajemen Sumber Daya Manusia Kepemimpinan. PT Gramedia Asri Media oleh PT Elex Media Komputindo
[9] A.A. Anwar Prabu mangkunegara, 2010 Evaluasi Kinerja SDM, bandung : PT Refika Aditama.hal,53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar